Rabu, 27 Maret 2013

PTK SMP 53 - Meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar


Meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar bagi siswa kelas VIII B Matematika SMP Negeri 2 Randublatung Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
        Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk membangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Ini berarti bahwa pembangunan mempunyai jangkauan yang luas dan jauh. Berhasil tidaknya program pembangunan faktor manusia memegang peranan yang sangat penting. Untuk pembangunan ini diperlukan manusia yang berjiwa pemikir, kreatif dan mau bekerja keras, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memiliki sifat positif terhadap etos kerja.
                        Sekolah sebagai tempat proses belajar mempunyai kedudukan yang sangat penting dan menonjol dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal dalam rangka mewujudkan tercapainya pendidikan nasional secara optimal seperti yang diharapkan.
  Menurut Syah (1998) ditemukan bahwa penguasaan guru tentang metode pengajaran masih berada  dibawah standar. Maka guru merasa tergugah untuk memperbaikinya melalui peningkatan penguasaan metode mengajar.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia. Menciptakan manusia yang cerdas dan maju perlu diimbangi dengan peningkatan mutu pendidikan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan. Dalam proses belajar mengajar tersebut guru menjadi pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.
Mutu pendidikan sangat erat kaitannya dengan mutu guru. Kunci keberhasilan pelaksanaan sangat ditentukan oleh faktor guru sebagai pengelola kegiatan pembelajaran. Namun semua juga tidak terlepas dari kemampuan siswa dari proses pembelajaran berlangsung, dari proses belajar mengajar ini harus kerja sama antara guru dengan murid ini akan menghasilkan hasil yang maksimal dengan meminimalkan kendala yang ada dengan memaksimalkan keunggulan dari keduanya.
Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif. Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif).
               Matematika sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya di samping aspek ilmu pasti banyak memuat materi bersifat hitungan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa lebih banyak dengan menggunakan perhitungan. Sifat materi pelajaran Matematika tersebut membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan ekspositoris, biasanya guru menggunakan metode ceramah maupun tanya  jawab terjadi dialog imperatif. Padahal dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa secara totalitas, artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor (keterampilan, salah satunya sambil menulis). Jadi dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tangapan, sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif. Situasi belajar ini dapat tercipta melalui penggunaan “pendekatan Teams Games Tournaments (TGT)
               Pada SMP Negeri 2 Randublatung sejak peneliti mengajar, dalam pembelajaran Matematika, peneliti sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan.
Sebagai seorang guru yang professional hendaknya dapat memilih dan menerapkan metode yang efektif agar materi yang dipelajari oleh siswa dapat dMatematikahami dengan baik serta dapat meningkatkan prestasi belajar. Lebih menarik lagi jika pada pembelajaran ditemukan metode dan cara-cara yang baru agar dapat terjadi interaksi yang menarik antara siswa dengan guru. Diantara cara dan metode yang digunakan dengan menggunakan sarana yang ada di sekolah diantaranya TGT (Teams Games Tournaments) dengan menggunakan turnamen games akademik yang mana siswa bersaing sebagai perwakilan home team (tum rumah) dengan anggota tim lain. TGT hampir sama dengan STAD adalah model cooperative learning (CL) yang diciptakan Yang diciptakan oleh Robert E. Sulevin dan koleganya dari Universitas John Hopkins Amerika Serikat, titik berat pada pengajaran ini adalah siswa dituntut aktif belajar dengan cara berkelompok. Perbedaan dengan model STAD adalah pada tes dan sistem perbaikan skor individu diganti dengan turnamen  game akademik ini diharapkan siswa dapat meningkatkan prestasinya.

B.      Identifikasi Masalah

             Dalam proses belajar mengajar di sekolah, siswa kelihatan belum serius dalam mengikuti pelajaran, motivasi belajar Matematika masih kurang, kurang memiliki bekal yang cukup untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah hal ini dapat dibuktikan dengan sering guru memberi pertanyaan pada akhirnya guru sendiri yang menjawab. Hal tersebut terlihat bahwa pelajaran didominasi oleh guru dan penjelasan guru kurang didukung dengan alat peraga yang sesuai dan menarik perhatian siswa. Dari kondisi ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari guru, perbaikan pembelajaran itu dapt dimulai dari diri guru yaitu dengan melakukan perbaikan dengan memperbaiki metode belajar, media, dan system belajar mengajar. Dari diri siswa dengan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Banyak siswa kurang berminat terhadap mata pelajaran Matematika karena dianggap sebagai pelajaran yang kurang menyenangkan, akibatnya materi yang sebenarnya mudah menjadi sulit untuk siswa. Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi kendala – kendala yang ada di lapangan dalam proses pembelajaran, sehingga prestasi belajar Matematika  masih masuk dalam kategori rendah. Dari kendala – kendala tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut :
a.        Siswa kurang memperhatikan dalam pembelajaran.
b.        Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.
c.        Siswa beranggapan bahwa dalam belajar kelompok tidak perlu semua bekerja.
d.        Adanya siswa yang suka membicarakan hal lain, yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok.
e.        Tanggung jawab siswa terhadap kewajiban masih rendah.
f.         Anggapan bahwa pelajaran Matematika itu sulit.
g.        Nilai pelajaran matematika cenderung rendah.
h.       Guru mendominasi pelajaran
i.         Guru belum menggunakan metode dan alat peraga yang sesuai.
Berangkat dari masalah – masalah yang sangat mengganggu dan menghambat siswa yang bersangkutan untuk meraih prestasi yang lebih tinggi, maka penulis mengadakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan terhadap mata pelajaran Matematika  pada diri siswa. 

 

C.      Perumusan masalah

Dari identifikasi masalah, diketahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa kurang menguasai materi pelajaran yang diberikan oleh guru. maka dapat dikemukakan analisis pemasalahan sebagai berikut :
1.       Metode yang digunakan guru tidak tepat sehingga diperlukan metode yang baru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa.
2.       Pembelajaran berpusat pada guru,  siswa kurang bisa menginterprestasikan kemampuannya. Sehingga perlu metode yang dapat mengembangkan kemampuan individu maupun kelompok.
3.       Guru sangat dominan sehingga keberhasilan siswa pada saat belajar sangat tergantung kemampuan guru dalam memberikan materi pelajaran. Pada pembelajaran selanjutnya siswa diharapkan untuk lebih aktif baik secara individu maupun kelompok.
4.       Kurangnya perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung, perlu metode interaktif yang mampu menumbuhkan kreatifitas siswa.

                Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah yang menjadi fokus perbaikan maka dapat dirumuskan sebagai berikut : “Penggunaan model pembelajaran TGT (Team Games Tournament) untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika pada pokok bahasan Operasi Pada Bentuk Aljabar bagi siswa kelas VIII B Matematika SMP Negeri 2 Randublatung Semester I Tahun Pelajaran 2008/2009”.


D.      Tujuan Penelitian

Dari latar belakang yang telah dikemukakan maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.       Mendapatkan metode yang tepat dalam membelajarkan Matematika pada materi Gelombang Bunyi.
2.       Meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika pada materi Gelombang Bunyi melalui penggunaan Metode TGT.
3.       Meningkatkan prestasi belajar siswa pada pelajaran Matematika
4.       Membangkitkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran Matematika

DAFTAR PUSTAKA


Andi Hakim Nasution. 1982. Landasan Matematika. Jakarta : Bharata Karya Aksara.

Daniel Muijs dan David Reynolds 2008. EffectiveTteaching Teori dan Aplikasi (Edisi ke -2 ) Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani, 2007, Strategi Pembelajaran Aktif, CTSD,IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Gagne, Robert M and Leslie J. Briggs, 1978. Principles of Instructional Design. 2nd Ed, New York : Holt Rinehart and Winstons.

Russeffendi 1988. Pengantar kepada membantu guru mengembangkan kompetensinya dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung : Tarsito

Nana Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Sudirman, 2007. Cerdas Aktif Matematika. Jakarta : Ganeca Exact.



Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

0 komentar:

Poskan Komentar