Senin, 07 Januari 2013

PTK SD 17 - DENGAN PENERAPAN METODE DISKUSI DAPAT


DENGAN PENERAPAN METODE DISKUSI DAPAT MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PKN SISWA KELAS 5 SEMESTER GENAP
SDN SAMBIREJO 4 KECAMATAN MANTINGAN KAB NGAWI
TAHUN PELAJARAN 2006/2007



 
BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang Masalah
Ilmu pendidikan atau disebut sebagai pedagogic dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan merenungkan tentang konsep-konsep dalam mendidik. Istilah pedagigic berasal dari pedagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak (Purwanto, 1998).  Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa ilmu pendidikan selalu memerlukan inovasi-inovasi konsep yang mengarah pada peningkatan kualitas anak didik. Dalam hal ini, ilmu pendidikan mensyaratkan adanya penelitian dan penemuan yang reliabel atau handal untuk memaksimalkan hasil pendidikan.
1
 
Menurut Barnadib (1984) dalam ilmu pendidikan dibedakan menjadi empat, yaitu ilmu pendidikan teoretis, ilmu pendidikan praktis, ilmu pendidikan sistematis dan ilmu pendidikan historis. Ilmu pendidikan teoretis memberikan renungan teoretis yang tersusun, teratur, dan logis tentang masalah dan ketentuan pendidikan. Ilmu ini memiliki titik tolak pada praktek pendidikan menuju pemikiran sistematis dan mengenal juga persoalan-persoalan yang bersifat filosofis yang berhubungan dengan pendidikan. Ilmu pendidikan praktis memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan pada perbuatan mendidik. Ilmu ini menempatkan diri dalam situasi pendidikan dan mengarah pada perwujudan atau realisasi ide-ide pendidikan. Istilah lain adalah mengarah pada teknis pendidikan. Ilmu pendidikan sistematis memberikan pemikiran secara tersusun dan lengkap tentang masalah pendidikan. Ilmu ini lebih membahas secara umum, abstrak dan obyektif tentang masalah pendidikan. Ilmu pendidikan historis memberikan uraian teoretis tentang sistem-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan melihat latar belakang kebudayaan dan filosofi yang berpengaruh pada masa tertentu.  Ilmu pendidikan historis ini dianggap memiliki hubungan timbal-balik yang paling kuat dengan ilmu pendidikan sistematis.
Apabila dikaitkan dengan peningkatan kualitas dalam pendidikan, maka terdapat kaitan yang jelas anatara ilmu pendidikan teoretis, praktis, historis, dan sistematis. Untuk memaksimalkan kualitas anak didik diperlukan suatu teknik atau metode yang paling sesuai dengan kondisi siswa. Untuk menemukan metode ini, diperlukan suatu konsep sistematis yang dapat digali dari pengalaman atau histori pada masa lampau serta konsesp-konsep atau ide-ide sistematis yang mendukung. Ide-ide atau teori tidak akan dapat diaplikasikan secara maksimal tanpa metode pendidikan atau teknik yang tidak mendukung dalam proses belajar mengajar.
Dengan menyadari keterkaitan yang cukup kuat antara aspek teknis (praktis), teoretis, dan ilmu pendidikan sistematis ini, maka dapat dikatakan  bahwa metode atau cara dalam teknik pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan guna mendukung kualitas yang maksimal dan mendukung ilmu pendidikan sistematik secara umum.
Dalam konsep “Model of School Learning”, Carol (1963) mengemukakan suatu konsep yang memberikan garis besar faktor-faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan pelajar dalam kegiatan belajar di sekolah. Konsep Carol diperoleh melalui penelitian-penelitian modern, dengan hasil yang menyatakan bahwa dalam kondisi belajar tertentu di sekolah, waktu yang benar-benar digunakan untuk belajar dan waktu yang dibutuhkan siswa merupakan fungsi karakteristik individu dan pengajaran yang diberikan pada siswa. Waktu yang digunakan ditentukan oleh jumlah waktu yang diinginkan siswa untuk melibatkan diri dalam belajar (yaitu ketekunannya) dan keseluruhan waktu yang diizinkan. Waktu belajar yang dibutuhkan siswa ditentukan oleh bakat kemampuannya terhadap tugas, oleh mutu pengajaran, dan kemampuannya menangkap pelajaran pelajaran yang ia dapat (Block, 1971:6). Konsep Carol ini dijelaskan lebih lanjut, yaitu bahwa mutu pengajaran yang dihadapi pelajaran dan kemampuannya dalam menangkap pelajaran berinteraksi pada perluasan waktu yang ia butuhkan berdasarkan bakat kemampuannya untuk menguasai pelajaran itu. Jika siswa memiliki bakat bakat yang tinggi dan pengajaran dilakukan dengan mutu pengajaran yang bagus, maka waktu yang dibutuhkan akan lebih sedikit.
Pada dasarnya, konsep Carol lebih mengedepankan waktu belajar yang disesuaikan dengan bakat siswa dan mutu pengajaran untuk mencapai hasil maksimum pemahaman siswa. Jelas terlihat bahwa bakat untuk menerima pelajaran dan metode pendidikan yang bagus sebagai faktor yang mempengaruhi efisiensi waktu belajar yang efektif, yang pada akhirnya

'Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700



0 komentar:

Poskan Komentar