Rabu, 02 Januari 2013

PD 438 - PENGARUH EXERCISE TERHADAP SISTEM


PENGARUH EXERCISE TERHADAP
SISTEM KARDIORESPIRASI PADA ATLIT PENCAK SILAT

BABI
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Hairy ( 1989 ) menyatakan bahwa latihan ( exercise ) adalah proses yang sistematis dari berlatih atau bekerja, yang dilakukan secara berulang-ulang dengan peningkatan jumlah beban latihan atau pekerjaannya. Latihan harus ditekankan kepada komponen-komponen fisik seperti daya tahan, kekuatan, kelincahan, kecepatan, kelenturan/ fleksibilitas, daya ledak (power), dan stamina.
Menurut Soekarman ( 1989 ), tujuan latihan adalah meningkatkan kekuatan, ketahanan, kelenturan, kelincahan, dan kecepatan. Kekuatan-kekuatan ini berhubungan dengan struktur dan faal dalam tubuh. Kalau latihan itu dikerjakan secara teratur dan sesuai dengan cara berlatih, maka diharapkan adanya perubahan-perubahan yang menunjang tercapainya kekuatan-kekuatan tersebut.
Olah raga, sebagai salah satu bentuk latihan harus dipandang sebagai kebutuhan layaknya jenis kebutuhan yang lain. Maksudnya, orang hams memberikan perhatian secara khusus tentang bagaimana cara memelihara/menjaga tubuh agar tetap bugar dan bagaimana cara meningkatkannya. Persoalan olah raga semakin penting sehubungan dengan kondisi sekarang, dimana dengan adanya kemewahan dan kemudahan tehnologi. Aktivitas keseharian sudah semakin sedikit melibatkan gerak fisik.
Waktu luang banyak disita acara televisi, video, dan lain sebagainya. Gaya hidup seperti ini tentunya tidak menguntungkan pembinaan kesehatan (Soetoto, 1999 ).
Salah satu faktor dalam olah raga untuk mencapai prestasi adalah stamina atau ketahanan ( endurance ),. Ketahanan ini tidak hanya meliputi ketahanan otot, juga diperlukan pengeluaran energi yang banyak untuk jangkar waktu yang lama, maka yang memegang peranan penting adalah ketahanan kardiorespirasi atau ketahanan kardiopulmoner. Ketahanan kardiopulmoner menentukan banyaknya 02 yang dapat diangkut ke jaringan jaringan dan pengangkutan CO2 serta zat-zat yang tidak berguna ke alat-alat pengeluaran. Sistem kardiorespirasi yang meliputi jantung, peredaran darah, dan paru tidak dapat dipisahkan dan saling tergantung satu dengan yang lain. Jantung adalah dua buah pompa berotot yang terletak dalam satu alat. Jantung bagian kin memompa darah ke seluruh jaringan tubuh dan jantung bagian kanan memompa darah ke paru. Pada latihan terjadi dua kejadian yaitu peningkatan curah jantung ( cardiac output ) dan redistritusi darah dari otot-otot yang tidak aktif ke otot-otot yang aktif. Curah jantung tergantung dari isi sekuncup (stroke volume) dan frekwensi denyut jantung. Kedua faktor ini meningkat pada waktu latihan. Redistritusi darah pada waktu latihan menyangkut vasokonstriksi pembuluh darah yang memelihara daerah yang tidak aktif dan vasodilatasi dari otot yang aktif yang disebabkan oleh kenaikan suhu setempat, asam laktat serta kekurangan oksigen ( Soekarman, 1989 ).
Subroto, ( 1994 ), menyatakan bahwa pencak silat merupakan salah satu contoh latihan yang banyak berkembang dikalangan anak-anak dan remaja. Latihan ini merupakan gabungan dari faktor-faktor fisiologi, psikologi, biomekanika, persarafan, biokimia, dan sosial. Pencak silat termasuk jenis latihan aerobic yang dapat menyebabkan perubahan kardiorespirasi, perubahan daya tahan otot, dan perubahan bahan-bahan kimia dalam jaringan. Latihan ini biasanya dilakukan secara rutin, di IPSI Surakarta dilakukan 3 kali seminggu dengan durasi 1-2 jam.
Kusmana ( 1982 ) menyatakan bahwa beraktivitas yang teratur terukur maka tuntutan nutrisi dan oksigen akan meningkat. Dengan kata lain bila kebutuhan nutrisi dan oksigen meningkat berarti kerja jantung meningkat. Bila kerja jantung meningkat secara langsung kebutuhan nutrisi dan oksigen otot jantung melalui arteria koronaria meningkat. Dengan latar belakang diatas aktivitas fisik yang teratur dan terukur dapat memperbaiki jantung. Perbaikan aliran darah koroner akan meningkatkan stroke volume dan cardiac out put sehingga pengambilan oksigen puncak meningkat, sirkulasi kolateral meningkat dan sirkulasi darah akan lebih baik. Aktivitas fisik yang teratur dan terukur dapat memperbaiki koroner akan tetapi bila aktivitas fisik dilakukan melebihi kemampuan maksimal akan merangsang timbulnya penyakit jantung koroner. Hal ini akan terjadi tidak hanya pada lansia akan tetapi juga terjadi pada pada usia muda atau atletik yang selalu dipacu jantungnya bekerja berat.
Mengingat fungsi kardiorespirasi sangat berhubungan erat dengan latihan, maka akan dilaksanakan penelitian pengaruh exercise terhadap tekanan darah, nadi, dan V02 max yang merupakan bagian dari sistem kardiorespirasi pada atlit pencak silat.
B.      Perumusan Masalah
Bagairnana pengaruh exercise terhadap sistem kardiorespirasi pada atlit pencak silat ?

C.      Pembatasan Masalah
Mengingat exercise dan sistem kardiorespirasi mengandung pengertian yang luas, maka dalam penelitian ini exercise yang dilakukan hanya berupa lari 2,4 Km. Sistern kardiorespirasi yang diukur adalah tekanan darah, denyut nadi, dan volume oksigen maksimum pada altit pencak silat IPSI Surakarta.

D.      Tujuan Penelitian
1.       Mempelajari pengaruh latihan pencak silat terhadap denyut nadi
2.       Mempelajari pengaruh latihan pencak silat terhadap tekanan darah 3. Mempelajari pengaruh latihan pencak silat terhadap VO2 max

E.       Manfaat Penelitian
1.       Menambah wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat tentang manfaat latihan pencak silat bagi tubuh
2.       Memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan tentang program latihan yang harus dikembangkan untuk meningkatkan fungsi tubuh.


DAFTAR PUSTAKA
Astrand, L, 1972, ST Depression, Heart Rate, and Blood Presure During Arm and Leg Work, Scan. J. Clin. Lab. Inv.

Brooks A. George and Fahey D. Thomas, 1987, Fundamental of Performance, Macmillan Publishing Company, New York.

Cooper H. Kenneth, 1982, The Aerobic Prograrn' for Total Well Being, Bantam Books.

Dede Kusuma, 1982. Flip Chart Mencegah Sakit Jantung, Yayasan Jantung
Indonesia, Jakarta.                                                                                                                             .

Gibson, John, 1995, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Hairy, Junusul, 1989, Fisiologi Olahraga, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Kartohoesodo, S. Memelihara Jantung Sehat dan Menjuga Jantung Sakit. Citra Budaya dan Karya Pembina Bangsa, Jakarta.

Lamb, DR., 1984. Physiology of Exercise and Adaptation Edisi ke-2, Macmillan publishing Company.        `

Nagle, F.J., 1973. Physiological Assessment of Maximal Performance. Exer. Sports Sci.

Oldridge, N.B, JR. Wick. J. Mc. Intosh. Exercise in Coronary Rehabilitation Prescription and Program Design, Journal Physiotherapy Canada, Mei/Juni

Rowell, L.B, 1974, Human Cardiovascular, Adjustments to Exercise and Thermal Stress, Physiol. Reviews.

Sajoto, Mochamad, 1988, Pembinaan Fisik Dalam Olahraga, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Slamet Suherman, 1996. Fisiologi Olah Raga. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Stegemann, Jurgen, 1981, Exercise Physiology, Georg Thieme Verlag Stuttgart; New York.

Suparmin, 2000, Metodologi Penelitian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas pembangunan Surakarta.

Syahmirza Indra L, 1999., Pendekatan Fisioterapi dalam Mengatasi Gangguan Akibat Inaktivitas, TITAFI XIV, Bali.
Wescott L. Wayne, 1976, Strength Fitness, Allyn and Bacon, Inc. Boston.

Wilmore H. Jack, Costill L. David, 1988. Training For Sport and Activity. Win C. " Brown Publisher, Dubuque, Lowa.




Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700


0 komentar:

Poskan Komentar