Senin, 12 November 2012

PTS 19 - PENGARUH IKLIM ORGANISASI DAN LINGKUNGAN KERJA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU


PENGARUH IKLIM ORGANISASI DAN LINGKUNGAN KERJA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU
DI SMA NEGERI 1 TABANAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang Masalah
Setiap orang tentu mempunyai tujuan dan berusaha untuk mencapainya. Tujuan itu akan berbeda bagi setiap orang antara lain karena pegaruh pengetahuan dan penagalamannya yang berbeda. Namun demikian, setiap orang akan sama dalam satu hal yaitu ingin mempertahankan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam mempertahankan dan memenuhi kebutuhan hidup ini seseorang masih memerlukan kerjasama dan tolong menolong dengan orang lain atau berorganisasi. Dalam oragnisasi orang dapat menyempurnakan kekurangan – kekurangan yang dimilikinya. Ada kecendeungan bahwa makin banyak keperluan yang harus dipenuhi maka makin banyak pula ia harus bekerjasama dengan orang lain dan bertambah pula ia harus memasuki organisasi. Oleh sbab itu, akhirnya hampir seluruh kehidupannya di manapun ia berada akan diresapi, diarahkan dan dikendalikan oleh organisasi. Dengan demikian oraganisasi akan jumpai dalam segala kehidupan manusia di manapun ia berada.
Organisasi dapat diartikan bemacam – macam tergantung dari arah mana kita memandangnya. Teori klasik memandang organisasi itu sebagai suatu wujud. Perndekatan teori klasik menekankan kepada pencapaian tujuan sehingga aspek – aspek organisasi dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan. Salah satu aspek oragnisasi adalah tenaga manusia. Dalam hal ini tenaga manusia dianggap sebagai mesin saja yang dipacu untuk mencapai target yang telah ditentukan oleh organisasi. Untuk keperluan ini prinsip – prinsip organisasi, prosedur dan metode kerja yang ketat harus diterapkan. Faktor lingkungan organisasi tidak menjadi perhatian atau tidak dipertimbangkan dalam menganalisis organisasi karena dianggap tidak berpengaruh. (Siagian, 1988 : 54)
Sedangkan teori neo klasik menganggap bahwa manusia yang bekerja dalam proses produksi harus dianggap sebagai orang yang mempunyai perasaan disamping menggunakan pikirannya. Perasaan inilah yang membedakan tingkah laku anatara mansuia yang satu dengan yang lain. Sebagai orang mereka mempunyai hak dan kewajiban serta tanggung jawab. Oleh sebab itu manusia tidak dapat disamakan dengan mesin dalam bekerja.
Sebagai menusia yang mempunyai perasaan mereka ingin menyampaikan keluhan dan apa yang dirasakannya kepada orang lain dan saling beriteraksi dengan orang lain. Dalam organisasi formal hal ini tidak mendapatkan tempatnya sehingga mereka mencari tempat pelarian yaitu organisasi informal yang sapat menampung kebutuhan spiritual mereka sehingga terpenuhi kepuasan batinnya. Jadi tidak semua hal yang dapat ditampung oleh oragnisasi formal, dan yang tidak tertampung ini dapat dipenuhi manusia pekerja dalam organisasi informal. Oleh sebab itu, organisasi informal dapat melakukan fungsinya baik yang positif yaitu memperkuat organisasi formal maupun yang negatif yaitu merongrong organisasi formal. Pendekatan teori neoklasik menitikberatkan pandangannya pada hubungan interpersonal atau informal dalam organisasi. Teori ini berorientasi kepada unsur kemanusiaan (personal oriented), sehingga yang diutamakan dalam oganisasi adalah kepuasan kerja manusia. Dalam hal ini manusia dianggap sebagai orang yang mempunyai perasaan dan pikiran yang digunakan dalam bekerja dan bukan sebagai semin. Oleh karena itu unsur kemanusiaan penting diterapkan dalam organisasi karena manusia dapat membuat segala sesuatunya bergerak dan berubah secara dianmis dalam organisasi. (Arif, 1986 : 21).
Baik teori oragnisasi Klasik maupun Neo Klasik ternyata juga mempunyai kelemahan – kelemahan sehingga kelemahan ini menjadi dasar munculnya pandangan baru tentang organisasi yaitu teori Modern.
Teor modern membangun kerangka pemikirannya dengan memodifikasikan teori klasik maupun teori neo kalasik yang memandang oragnisasi itu sebagai suatu sistem yang berproses. Yang dimaksud “sistem” adalah bagian – bagian dari organisasi yang berhubungan satu sama lain menjadi satu kesatuan secara keseluruhan. Bagian – bagian itu terdiri dari faktor – faktor luar dan faktor dalam organisasi. Faktor luar organisasi adalah faktor lingkungan di mana organisasi itu berada seperti faktor politik, ekonomi, sosial, budaya. Teknologi, hukum, demografi, sumber – sumber alam, langganan, nasabah dan lain – lain. Faktor dalam oragnisasi adalah antara alin orang – orang yang bekerja, tugas dan tanggung jawab, hubungan kerja, dana, alat – alat, peraturan dan prosedur kerja, dan lain – lain. Organisasi sebagai proses sistem terdiri dari faktor luar dan faktor dalam yang berhubungan atau berinteraksi satu sama lain, saling pengaruh mempengaruhi sehingga merupakan suatu kebulatan. Jadi di dalam oragnisasi yang dipentingkan baik faktor intern organisasi seperti struktur yang formal maupun faktor ekstern organisasi sperti lingkungan organisasi. Di samping itu organisasi dipandang sebagai suatu kebutalan atau keseluruhan yang terdiri dai komponen – komponen organisasi yang saling berhubungan satu sama lain. Jadi organisasi tidak hanya dipandang bagian – bagiannya saja tetapi harus dianalisis secara keseluruhuan (teori analisis sistem) (Stephen P.Robbins, 1996;220).
Sehubungan dengan pandangan modern, Chester I Barnard adalah orang pertama meletakkan dasar dari teori modern dan mengemukakan bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem yaitu sistem sosial yang dinamis dari hubungan kerja sama yang bertujuan untuk memuaskan keperluan orang – orang. Selanjutnya Herbert G.Hicks&C.Ray Gullett mendifinisikan organisasi sebagai suatu proses yang tersusun dalam mana orag – orang berhubungan untuk mencapai tujuan. Sedangkan George Homans mengemukakan bahwa organisasi terdiri dari system lingkungan luar (external environment) dan system dalam (intern) oragnisasi dalam hubungannya yang saling tergantung satu sama lain. Jadi dalam pandangan teori modern ini faktor dalam oragnisasi sehingga perlu menyesuaikan dirinya dengan perubahan – perubahan yang terjadi demi mempertahankan hidupnya.
Walaupun orang berpendapat bahwa teori – teori tersebut di atas hanya cocok diterapkan di negara – negara maju dan tak sepenuhnya cocok di negara – negara berkembang. Oleh sebab itu beberapa ilmuan mengemukakan konsep organisasi di negara – negara berkembang.
Perkembangan terbaru dari organisasi ialah konsep organisasi Jepang dan teori Organisasi tipe Z (oleh William Ouchi). Pengalaman meunjukkan bahwa perusahaan Amerika yang dipimpin orang Jepang di Jepang maupun perusahaan Jepang yang dipimpin oleh orang Jepang di Amerika ternyata mengalami sukses jika dibandingkan dengan perusahaan Amerika yang dipimpin oleh orang Amerika di Jepang. Keadaan ini mendorong orang Amerika untuk mengadopsi sistem organisasi dan manajemen yang diterapkan oleh orang Jepang karena ternyata mampu menjawab tantangan dunia. (Arif, 1986:741).
Dengan mengadopsi manajemen Jepang tersebut dan mengkombinaskan dengan sistem Amerika sendiri terciptalah teori Z. Secara berangsur – angsur perusahaan Amerika yang besar – besar mulai menerapkan teori Z ini dalam perusahaannya sehingga bentuk perusahaan yang semula bertentuk A (Amerika) kemudian diubah menjadi tipe Z. Ternyata tipe Z inipun cocok dengan masyarakat Amerika.
Perkembangan uang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan hal – hal yang segera direspin di dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Beberapa perubahan yang terjadi di Indonesia dan berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan. Pertama, pelaksanaan Undag – Undang Nomor 22 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah menjadi Undang – Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pembagian Kewenangan antara Pusat dan Daerah telah membawa perubahan pada sistem pengelolaan pendidikan nasional, dari sentralistik kepada desentralistik. Kedua, penatapan Undangan – Undangan Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta beberapa peraturan perundang – undangan lainnya, telah menjadi arah baru bagi pengelolaan pendidikan nasional sebagai suatu sistem. Ketiga, perubahan global dalam berbagai sektor kehidupan yang terjadi demikian cepat, merupakan tantangan dan peluang nasional bagi upaya peningkatan mutu pendidikan. Keempat, ketidakseuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja perlu dikaji secara serius, konsisten dan berkelanjutan. Dengan demikian diperlukan adanya paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan yang mampu mempersiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi multi dimensional. Salah satu upaya strategis yang dilaukan pemerintah adalah pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), yang disebut Kurikulum 2004.
Pada tingkat persekolahan, pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menunut kemampuan baru pada guru dalam mengelola proses pembelajaran secara efektif. Tingkat produktivitas sekolah dalam memberikan pelayanan – pelayanan secara efisien kepada pengguna (peserta didik, masyarakat) akan sangat tergantung pada kualitas guru – gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan pada keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok.
Peran strategis guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajra (Depdiknas, 2004:2). Guru merupakan faktor yang dominan, karena di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi keberhasilan mutu pendidikan pada umumnya dan kualitas pembelajaran pada khususnya. Dalam memposisikan guru sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan mutu pendidikan di sekolah pada umumnya dan kualitas pembelajaran pada khususnya, sebenarnya merupakan suatu yang logis bahwa tugas utama guru sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Artinya, jika guru dapat melaksanakan tugas pembelajaran sebagaimana yang diharapkan, akan berpengaruh pada peningkatan hasil belajar siswa. Namun kenyataannya, masih ada sebagian masyarakat meragukan kemampuan guru yang menyangkut semua aspek yang sering disebut dengan kinerja guru. Rendahnya perolehan nialai ujian nasional siswa sering diidentikkan dengan ketidakmampuan guru dalam mengembangkan potensi siswa. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena masyarakat memandang bahwa keberhasilan atau kegagalan siswa merupakan keberhasilan atau kegagalan pendidik. Keraguan terhadap kinerja guru tersebut dipandang wajar karena hal itu merupakan suatu kontrol untuk mengoreksi secara terus – menerus, sehingga dengan adanya koreksi dari masyarakat dapat memacu guru untuk terus meningkatkan kinerja. Keberhasilan dan kualitas lulusan selalu menjadi dambaan setiap lembaga pendidikan. Dalam rangka meningkatkan mutu lulusan tersebut, khususnya untuk memacu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu lebih disempurnakan dan ditinjau kembali proses belajar – menagajr disekolah. Penyempurnaan tersebut dapat melalui perbaikan sarana dan prasarana pendidikan seperti : kurikulum, strategi dan metode pengajaran, kualitas guru, buku sumber untuk guru dan siswa, sistem penilaian, pemberian beasiswa, alboratorium, perpustakaan, serta kesejahteraan guru. Semua itu dilakukan agar setiap komponen pendidikan dapat berfungsi dan berperan sebagaimana yang diharapkan.
Meskipun variabel – variabel yang menjadi input seperti disebutkan di atas telah ditangani selama ini, baik kualitas maupun kuantitasnya, sehingga kondisi saat ini sudah lebih baik daripada kondisi sebelumnya, namun mutu pendidikan dan prestasi belajar siswa seperti yang diinginkan belum terwujud. Dengan demikian, keluhan masyarakat terhadap belum optimalnya kinerja guru masih tetap bermunculan, termasuk juga di dalamnya adalah yang terjadi di SMA Negeri 1 Tabanan. Tampaknya ada suatu variable yang selama ini belum mendapatkan perhatian yang setara dengan perhatian yang diberikan pada variabel – variabel lainnya yang berpegaruh terhadap kinerja guru, yaitu manajemen pendidikan. Untuk itu perlu kiranya diidentifikasikan variabel – variabel lain yang berpengaruh terhadap kinerja guru.
Secara manejrial, seperti halnya negara – negara berkembang lainnya, maslah – maslaah yang dihadapi SMA di Indonesia adalah pada hakikatnya lebih merupakan sebagai masalah manajerial. Kurag jelasnya tugas – tugas yang dikerjakan, tidak efektifnya kinerja guru dan pegawai, kebanyakan bersumber pada kurang kapabel dan profesionalnya manajer di SMA itu.
Kesuksesan organisasi atau lembaga tergantung dari kemampuan dan keterampilan dari orang – orang yang ada dalam organisasi atau lembaga tersebut. Seorang pimpinan dalam memberikan fasilitas untuk menunjang kemampuan dan meningkatkan partisipasi pegawai di dalam suatu organisasi merupakan sasaran manajemen pesonalia (Harris, 1979:134).
Dengan menerapkan manajemen personalia diharapkan terwujud pegawai (termasuk guru) yang memiliki kesadaran untuk tepat waktu, betah, disiplin, teliti dan memiliki kreativitas yang tinggi dalam melakukan suatu pekejaan sesuai dengan profesi yang diembannya.
Keadaan SMA Negeri/Swasta yang ada di kabupaten Tabanan terdiri dari SMA Negeri dan 9 SMA Swasta yang etresbar pada setiap kecamatan Kabupaten Tabanan. Salah satu dari 9 SMA Negeri yang ada di kabupaten adalah SMA Negeri 1 Tabanan. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang keadaan SMA Negeri/Swasta di Kabupaten Tabanan tertera pada tabel berikut.
Tabel 1.1
Keadaan SMA Negeri/Swasta di Kabupaten Tabanan
DAFTAR PUSTAKA
Affif, Mirian Soffyan.1993. Organisasi dan Manajemen. Jakarta: Karunia; UT

Anastasi, Anne & Susana Urbina. 1997. Psychological Testing. Terj. Robertus Hariono S.Iman. Jakarta: PT. Prenhallindo

Ancok, Djamaludin. 1998. Motivasi dan Kepuasaan Dalam Kerja. Yogyakarta: PPM- FE UGM

Ary, Donald, Lucy Cheser Jacobs & Asghar Razavich. 1082. Introduction to Research in Education.  Terj. Arief Furchan. Surabaya; Usaha Nasional.

As’ad. 1995. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty

-------------, 1982. Kepemimpinan Efektif Dalam Perusahaan: Suatu Pendekatan Psikologik. Yogyakarta: Liberty.

Atmosoeprapto, Krisdarto. 2000. Menuju SDM Berdaya: Dengan Kepemimpinan Efektif dan Manajemen Efisien. Jakarta: Gramedia.

Azwar, Saifuddin, 1986. Reliabilitas dan Validitas: Interprestasi dan Komputasi. Yogyakarta: Liberty

------------, Saifuddin, 2001. Metode Penelitian, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Bakrie, Aburizal. 1999. Mengefektifkan Sistem Pendidikan Ganda. (Makalah disampaikan pada Rapat Kerja Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 29 Maret 1999) di Jakarta

Borg, W.R & Gall, M.D. 1983. Educational Research: A Introduction. New York: Longman.

Cahyono, Bambang Tri. 1996. Sumber Daya Manusia. Jakarta : IPWI

Danim, Sudarwan. 2000. Metode Penelitian Untuk Ilmu-ilmu Perilaku. Jakarta: Bumi Aksara

Dantes, I Nyoman. 1986. Variabel penelitian dan Perumusan Hipotesis. Singaraja: Jurusan Ilmu Pendidikan, FKIP Unud.

Davis, Keith & John W. Newstrom. 1972. Human Behavior at Work: Organizational Behavior. Tej. Agus Dharma. Jakarta: Erlangga

------------. 1989. Human Behavior at Work: Organizational Behavior. New York: McGraw-Hill.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

0 komentar:

Poskan Komentar