Senin, 12 November 2012

PTK TK 05-BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN KETRAMPILAN MATEMATIKA


BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN
KETRAMPILAN MATEMATIKA
(Penelitian Tindakan Kelas Pada Anak TK XXXXXXXX)
BERMAIN KARTU BILANGAN UNTUK MENINGKATKAN

 

ABSTRAKSI


Peningkatan ketrampilan berhitung dengan bermain kartu bilangan pada anak usia prasekolah sangat penting, mengingat masih banyak ditemui anak didik yang masih rendah ketrampilannya dalam berhitung/matematika. Hal ini disebabkan antara lain masih kurangnya kemampuan/pengertian dari orang tua dan peran guru dalam peningkatan ketrampilan anak dalam berhitung/ membilang.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif studi operasional/tindakan kelas dan dikenakan pada 28 anak didik Taman Kanak-kanak xxxx Kabupaten xxxxx Tahun 2006. Tindakan kelas yang dilaksanakan adalah model siklus. Tindakan dilakukan secara bertahap, terdiri dari 4 komponen yaitu rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Rencana tindakan memuat berbagai cara yang dilakukan oleh guru. Tindakan kelas dilaksanakan guna meningkatkan ketrampilan matematika para peserta didik. Observasi merupakan upaya untuk merekam kegiatan yang terpadu selama kegiatan berlangsung. Refleksi merupakan kegiatan dampak dari hasil bermain kartu bilangan.
Hasil tindakan kelas menunjukkan bahwa hasil kerja pada Siklus I terdapat 5 (18%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 23 (82%) anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. Pada Siklus II terdapat 20 (71%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 8 (29%)anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan. pada Siklus III terdapat 26 (93%) anak yang hasilnya sudah dapat dikatakan tuntas, sedangkan yang 2 (7%) anak masih keliru dan tidak bersemangat mengikuti kegiatan.



DAFTAR PUSTAKA

Alsa, Asmadi. 2003. Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Serta Kombinasinya Dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Suharsimi, Arikunto. 1997. Dasar-dasar Teori Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

Suharsimi, Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta : Rhineka Cipta.

Corey, Gerald. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : Refika Aditama.

Cucu Ellyawati. 2005. Pemilihan dan Pengembangan Sumber Belajar Untuk Anak Usia Dini. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 1984. Pendidikan Skolastik di TK. Jakarta : Direktorat Pendidikan Dasar, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif, Dasar-dasar dan Aplikasi. Malang YA3.

Gunawan, A.H. 2000. Sosiologi Pendidikan, Suatu Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta : Rhineka Cipta.

Hadi, Sutrisno. 2002. Metodologi Research I dan II. Yogyakarta : Andi Offset.

Koeswara, E. 2005. Motivasi, Teori dan Penelitiannya. Bandung : Angkasa.

Monks, F.J., dkk. 1998. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Nasution, S. 2003. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Painun, dkk. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.

Rahman, Hibana S. 1998. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta : PGTKI Press.

Yeni Rachmawati, S.Pd., Euis Kurniati, S.Pd. 2005. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia TK. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
ak I� k r 0� p� gga

Kartono, Kartini. 1995. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung : CV Mandar Maju.

Monks, FJ. Kenoers dan Haditono. 1994. Psikologi Perkembangan. Cetakan ke IX. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Munandir. 2001. Ensiklopedia Pendidikan. Cetakan I. Malang : UM Press.

Ober Lander, June R. 2002. Slow and Study Get M Ready (Buku pedoman Pengembangan Anak Dliii Usia). Jakarta: PT Gramedia.

Pertiwi, dkk. Bermain Dunia Anak. Yogyakarta: Aspirasi Pemuda.

Salim, Evita. Singgih. 2003. Kreatifitas dan Pengukuran CQ. Jakarta: Laboratorium Psikologi Pendidikan dan Pengembangan SDM.

Singgih, D. Gunarsa dan Yulia Singgih. 1996. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia.

Sudjana, Nana. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru.

Surachmat, Winarno. 1968. Research Pengantar Metodologi Ilmiah. Bandung IKIP Bandung.

Yusuf LN, Syamsu. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Ramaja. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Zulkifli L. 1986. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remadja Karya

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700
tian� A d d p� �� melibatkan guru. Keaktivan guru dalam mengembangkan penelitian kependidikan merupakan hal yang sangat penting bagi keberhasilan proses belajar-mengajar.
10.      Guru sebagai pendorong kreativitas. Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran, dan guru harus memiliki kemampuan dalam mendemonstrasikan kreativitas. Dengan demikian, maka guru memiliki peranan dalam menunjukkan, memicu, mendorong, dan memunculkan kreativitas siswa.
11.      Guru sebagai pembangkit pandangan. Siswa belajar untuk mengetahui hal yang belum diketahuinya. Dalam hal ini, guru merupakan salah satu aktor utama yang memiliki peran dalam mentransfer pengetahuan serta memberikan pandangan-pandangan tentang suatu hal kepada siswa. Siswa yang belum memiliki cara pandang tersendiri terhadap suatu hal cenderung akan mengikuti bagaimana gurunya memandang suatu hal, oleh karena guru dianggap sebagai model atau sosok yang lebih memahami hal tersebut.
12.      Guru sebagai pekerja rutin. Guru bekerja dengan ketrampilan, dan kebiasaan tertentu serta kegiatan rutin yang sangat diperlukan.
Hal-hal tersebut diatas merupakan sebagian dari peran penting guru dalam pendidikan. Konsep peran guru  tersebut secara jelas mengemukakan bahwa peran guru bukan hanya dalam aspek membimbing untuk mempelajari suatu materi, akan tetapi juga membimbing perkembangan kejiwaan siswa menuju manusia yang memiliki iman-taqwa (imtaq) dan berkualitas baik. Pembentukan siswa menjadi insan berkualitas merupakan salah satu tugas pendidik, dimana siswa dibimbing agar memiliki prestasi akademik dan memiliki kualitas perilaku atau kejiwaan yang sesuai dengan norma-norma agama dan sosial.  Guru memiliki peran yang kuat dalam membentuk moralitas, kejiwaan atau psikology siswa, kepribadian, serta dalam kualitas akademik siswa.
Mengenai kenakalan anak, Yusuf (2006 :34) menjelaskan sebagai berikut:
Kenakalan anak merupakan suatu perilaku yang dianggap menyimpang dari aspek moral, kesusilaan, maupun agama.  Kenakalan siswa memiliki tingkatan yang berbeda-beda, dari tingkat ringan, sedang, sampai berat. Kenakalan dalam tingkatan yang ringan belum membahayakan dan pada umumnya masih mudah untuk ditanggulangi. Kenakalan dalam tingkat sedang merupakan kenakalan yang apabila dibiarkan akan mengakibatkan dampak yang sangat buruk bagi siswa maupun lingkunganm akan tetapi tingkatan ini masih mudah untuk ditanggulangi. Sedangkan kenakalan dalam tingkat berat merupakan kenakalan yang dianggap serius, sangat berbahaya bagi perkembangan siswa dan lingkungan, serta sulit ditanggulangi. Seberapapun tingkatan suatu kenakalan, hal ini merupakan suatu kondisi yang sangat perlu untuk segera ditanggulangi, demi masa depan siswa dan kenyamanan lingkungan belajar siswa (Yusuf, 2006: 34).

Sementara itu, secara psikologis, anak tingkat sekolah taman kanak-kanak berada dalam fase masa kanak-kanak awal (early chilhood). Hal ini sebagaimana dijelaskan Rizky (2009 :3) sebagai berikut:
Awal masa kanak-kanak berlangsung dari dua sampai enam tahun. Masa ini dikatakan usia pra kelompok karena pada masa ini anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu masuk ke fase berikutnya. Menurut Pieget, pada usia ini anak memiliki sifat egosentris, sehingga berkesan ingin menang sendiri karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Sedangkan  pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis-rumit (Rizky, 2009: 3).

 Berdasarkan konsep tersebut, maka dalam membimbing anak yang masih dalam fase belajar awal dengan karakteristik egosentris, masih dalam tahapan meniru, dan belum mampu berfikir rumit  bahkan untuk sekedar membedakan baik dan buruk ini diperlukan adanya penanganan khusus yang sesuai dengan fase perkembangannya oleh guru. Bimbingan yang dilakukan dengan menggunakann pendekatan untuk anak remaja dan orang dewasa tidak akan sesuai untuk anak dalam fase ini.
Perilaku seseorang, tanpa memandang fase perkembangan psikologisnya, berkaitan erat dengan dorongan hati yang muncul dari dalam dirinya sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan disebut sebagai motivasi.
Terkait dengan motivasi, Makmun (2005: 37) mengemukakan bahwa:
Motivasi merupakan suatu kekuatan atau power atau tenaga (forces) atau daya atau suatu keadaan yang kompleks (complex states) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu baik disadari maupun tidak. Motivasi timbul dan tumbuh berkembang dengan jalan datang dari dalam diri individu sendiri (intrinsik) dan datang dari lingkungan (ekstrinsik) Makmun (2005: 37).

Di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010, fenomena kenakalan anak ini banyak dijumpai. Kenakalan anak ini diantaranya adalah munculnya perilaku menyerang secara fisik dan non fisik, dan gemar membolos. Hal ini dipandang serius oleh guru dengan asumsi bahwa perilaku semasa kanak-kanak akan menjadi kebiasaan yang akan terbawa sampai dewasa. Guru berupaya memberikan pendidikan yang disesuaikan dengan tingkat berfikir anak, dengan mengutamakan pemberian motivasi agar anak membiasakan diri berperilaku baik dan meninggalkan kebiasaan yang tidak baik. Dalam kenyataan yang dialami, kegiatan ini tidak berlangsung dengan mudah. Anak masih biasa mengulang kebiasaan buruk dalam periode tertentu setelah dilakukan upaya pembinaan. Hal ini ada kemungkinan akibat tidak terpantaunya kenakalan anak oleh orang tua di rumah, sehingga kebiasaan-kebiasaan buruk masih sering terulang kembali.
Dengan berdasarkan konsep peran penting guru dalam pendidikan, banyak terjadinya kenakalan pada anak tingkat taman kanak-kanak,  konsep fase perkembangan anak, konsep yang menunjukkan bahwa perilaku merupakan refleksi dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (motivasi), serta fakta yang terjadi di lapangan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Upaya Pemberian Motivasi Oleh Guru Untuk Mengurangi Kenakalan Anak Di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010”. Alasan pemilihan lokasi ini adalah peneliti telah cukup mengenal kondisi anak dan lingkungannya dan kondisi latar belakang anak, sehingga lebih mudah untuk memperoleh data-data yang paling mendekati kondisi riil yang ada.

B.        Identifikasi Masalah
Bersadarkan atas latar belakang masalah yang telah dikemukakan, dapat diidentifikasi adanya masalah sebagai berikut:
1.          Di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010, fenomena kenakalan anak banyak dijumpai, diantaranya adalah munculnya perilaku menyerang secara fisik dan non fisik, dan gemar membolos.
2.          Upaya pembinaan yang dilakukan guru masih mengalami berbagai kendala dalam bentuk terulangnya kembali perilaku yang kurang baik dalam periode tertentu, yang kemungkinan diakibatkan kebiasaan yang kurang baik di rumah, dimana perhatian orang tua masih kurang.

C.        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang  masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan, disusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1.          Apasajakah bentuk-bentuk kenakalan anak dalam fase masa kanak-kanak awal (early chilhood) di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen?
2.          Upaya pemberian motivasi apasajakah yang dilakukan guru untuk mengurangi kenakalan anak di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen?

D.        Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal berikut:
1.     Bentuk-bentuk  kenakalan anak dalam fase masa kanak-kanak awal (early chilhood) di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen.
2.     Model-model  upaya pemberian motivasi yang dilakukan guru untuk mengurangi kenakalan anak di Taman Kanak-Kanak Tri Bhakti Sragen.

E.         Kegunaan Penelitian
Kegunaan atau manfaat yang diharapkan dari dilaksanakannya penelitian ini meliputi beberapa aspek, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.          Manfaat Teoritis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan khasanah pengetahuan dalam bidang bimbingan konseling, yang  secara khusus menyoroti upaya pemberian motivasi untuk mengurangi kenakalan anak tingkat taman kanak-kanak.
b.         Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan maupun referensi bagi penelitian psikologi pendidikan sejenis.

2.          Manfaat Praktis
a.         Penelitian ini diharapkan dapat menjadi memberikan dorongan bagi guru dalam mempelajari ilmu-ilmu yang mengarah pada fungsi guru yang lebih kompleks dari sekedar mengajar, dan diharapkan mampu menjadi sumber informasi bagi arti penting peranan guru  dalam dunia pendidikan. 
b.         Penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi bagi para pengambil keputusan di bidang pendidikan guna mengembangkan suatu system pendidikan yang tidak mengesampingkan arti penting peran guru tergadap perkembangan siswa.

DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Barnadib, Sutari Imam. 1984. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: IKIP
Greegory Hansen. 1988. Motivation Technique in Education. New York, McGraw Hill.
H.A. Syamsudin Makmun. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya
Mahmud Yusuf, 2006. Pengantar Psikologi Anak dan Perkembangan. Jakarta: Ramadhani
Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda
Majid, Abdul. 2007. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prasetya Irawan. 1994. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar Bahan Ajar. Jakarta: Dikti Depdikbud.
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Ridwan, Rifai.1992. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Sondang P. Siagian. 1995. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta
Soetomo.1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Tilaar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

0 komentar:

Poskan Komentar