Selasa, 02 Oktober 2012

AG - 18 PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN ANAK DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM STUDI PADA TK ABA


PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN ANAK
DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
 STUDI PADA TK ABA NGEMPLAK KALI KOTES
KABUPATEN KLATEN
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Tuntutan akan sumber daya manusia yang unggul merupakan kebutuhan umat manusia. Terlebih lagi setelah memasuki era globalisasi in I persaingan akan sangat ketat sehingga manusia – manusia yang tidak berklualitas akan tersingkirkan dalam persaingan. Untuk mewujudkan tuntutannya tersebut dunia ini pendidikan ikut berperan sebagai gerbang utama. Islam adalah agama yang sangat menekankan pada pendidikan, kerena dengan pendidikan akan mampu meningkatkan potensi sumber daya manusia, umat islam khususnya baik dibidanmg IPTEK maupun IMTAK. Oleh karena itu setiap umat islam diwaji bkan untuk melaksanakan pendidikan, mulai sejak dari buaian sampai ke liang lahat, baik laki – laki maupun perempuan.
Sudah menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua mendidik anak – anaknya agar menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa. hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW.


Artinya “ Tiada suatu pemberian pun yang lebih utama dai orang tua kepada anaknya, selain pendidikan yang baik. (H.R. hakim, Kitabul Adab JUz 4 Hadist NO. 7679 )

Menurut Ahmad Tafsir ( 1991: 26 ) bahwa pendidikan ialah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya dengan penjelasan bahwa pengembangan pribadi mencakup pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan dan pendidikan oleh.orang lain ( guru ). Sedangkan seluruh aspek mencakup aspek jasmani, akal dan hati. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani & rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam ( Ahmad D. Marimba, 1989: 23 ).
Pendidikan dapat dilaksanakan dimana saja baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dari ketiga lingkungan tersebut seorang anak mendapatkan pendidikan. Di dalam keluarga anak- bisa memperoleh pendidikan dari anggota keluarga misal ayah, ibu, kakak dan adik. Sedang di masyarakat sering dijumpai berbagai organisasi kemasyarakatan di antaranya lembaga keagamaan, lembaga pendidikan kesenian, pramuka dan olahraga. Sedangkan di sekolah anak didik mendapat pendidikan dari guru.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berada di tengah-tengah masyarakat hanya akan berhasil bila ada kerjasama dan dukungan yang penuh pengertian dari masyarakat dan keluarga (Soedijarto, 1993: 9). Tujuan pendidikan pada dasamya bermaksud mengembangkan kepribadian dan kemampuan agar menjadi warga negara yang memiliki kualitas sesuai dengan cita-cita bangsa berdasarkan falsafal/dasar negara Indonesia. (Hadari Nawawi, 1997 : 12). Karena pada dasamya tujuan pengajaran pada dasamya adalah diperolehnya bentuk perubahan tingkah laku baru pada siswa, sebagai akibat dari proses belajar mengajar (Nana Sudjana, 1996: 6).
Dalam rangka membentuk kepribadian anak, maka perlu diberikan bekal pendidikan pada anak dan salah satunya adalah pendidikan agama Islam. Menurut Basyirudin Usman ( 2002 : 4 ) Pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan yang bertujuan membentuk manusia agamis dengan menanamkan aqidah, keimanan, amaliyah dan budi pekerti atau akhlak yang terpuji untuk menjadi manusia yang takwa kepada Allah SWT Kepribadian yang berkualitas yang diharapkan bagi peserta didik adalah agar mereka mempunyai kemandirian belajar, kedisiplinan, ketekunan, keuletan dan pantang menyerah sehingga mereka dapat mempertahankan diri dari persaingan-persaingan yang mereka hadapi di dunia pendidikan atau dunia kerja yang akan mereka hadapi nantinya.
Sedangkan tujuan pendidikan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 bab 11 pasal 3 tentang Dasar, Fungsi dan Tujuan pendidikan menyatakan:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggungjawab dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani & rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungJawab kemasyarakatan & kebangsaan”

Untuk mencapai tujuan pendidikan maka lingkungan merupakan salah satu hal yang mempunyai peran terhadap pembentukan kepribadian dan perilaku anak, karena di lingkunganlah anak tumbuh dan berkembang. Lingkungan tersebut dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari lingkungan tersebut seorang anak mendapatkan pendidikan yang berbeda-beda yang kesemuanya itu akan berpengaruh terhadap kepribadian dan perilaku anak. Jadi apabila lingkungan yang ada di sekitar anak baik maka akan berpengaruh positif terhadap anak atau sebaliknya.
Taman kanak - kanak adalah merupakan lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini pada rentan usia 4 - 6 tahun. Para pendidik di lembaga ini harus memberikan layanan yang professional kepada anak didiknya dalam rangka peletakan dasar kearah pengembangan sikap, pengetahuan dan ketrampilan agar anak didiknya mampu menmyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempersiapkan. mereka memasuki jenjang sekolah dasar. ( Yuliani Nurani Sujiono,dkk, 2004 : 1.1 ). Untuk itu pembelajaran yang dilakukan harus dapat mengembangkan potensi peserta didik.
Menurut Muhaimin ( 2004 : 28 ) bahwa dalam konteks system pembelajaran, agaknya titik lemah pendidikan agama lebih terletak pada komponen metodologinya, kelemahan tersebut dapat teridentifikasi karena kurang bisa mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” atau kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang perlu diintemalisasikan dalam diri peserta didik.
Dalam proses belajar mengajar sebenamya setiap pendidik memiliki kesempatan untuk melakukan peningkatan kualitas karakter anak dengan menggunakan metode yang tepat. Terdapat sejumlah fenomena yang menarik berkaitan dengan karakter anak didik disebuah lembaga pendidikan yang tidak tidak memiliki jumlah siswa yang banyak, dapat membuat siswa mampu mengembangkan kualitas sosial dengan tampak terjalin akrabnya hubungan sesama mereka. Dengan bergabungnya siswa tingkat dasar sampai tingkat ,atas di bawah satu atap, memberi kesempatan lebih besar bagi mereka mengenal hubungan Junior - senior dengan mengembangkan 'respect' oleh junior dan oleh senior.
Banyak berbagai kejadian Yang mencerminkan lemahnya sebuah karakter Yang dimiliki oleh siswa, misalnya dalam PBNI di kelas sering kali ditemukan fakta-fakta tentang siswa yang Jarang sekali bertanya ketika diberi kesempatan untuk bertanya. Walaupun ada juga sebagian siswa yang, bertanya terus-menerus ketika diminta untuk menyelesaikan sebuah prosedur dengan menanyakan setiap langkah atau bahkan hal-hal yang sangat tidak terlalu penting. Pada kesempatan lain, ketika diberi tes misalnya, sejumlah siswa Yang secara kualitas intelektual tidak diragukan, tidak mampu menyelesaikan soal dengan cepat.
Dalam keseharian, baik di sekolah maupun di rumah kita sering kali menemukan sejumlah anak yang masih memiliki ketergantungan baik dalam cara berfikir, bersikap maupun bertindak. Ketergantungan itu umumnya dipengaruhi oleh tingkatan umur. Misalnya anak usia TK memiliki ketergantungan yang lebih tinggi dibanding anak SD begitu seterusnya. Meskipun demikian, tidak jarang juga ditemukan anak pada tingkatan lebih tinggi tenyata memiliki ketergantungan lebih dibanding anak tingkatan dibawahnya. Masalah utamanya adalah masalah karakter dan lebih tepatnya tentang kemandirian.
Hal ini karena pembentukan kualitas karakter tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pembentukan kualitas intelektual. Karakter yang berkualitas memiliki peranan penting bagi anak didik dalam mencapai keberhasilan, baik yang sifatnya antara seperti studi yang sedang dijalani, maupun kelak ketika menghadapi kehidupan nyata. Salah satu bagian dari pengembangan karakter adalah masalah kemandirian. Watak kemandirian yang berkualitas pada sejumlah anak didik bisa jadi merupakan bawaan sejak lahir. Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa hal ini lebih banyak berkembang karena didikan dari pendidik/orang tua.
Anak usia dini masih banyak yang menggantungkan seluruh kebutuhannya kepada orang dewasa yang ada disekitamya. Bahkan seorang anak yang ingin buang air dan memakai baju saja masih minta bantuan kepada lbu atau bapaknya. Orang tua terlalu memanjakan anaknya dengan melayani segala kebutuhannya dari mengambilkan barang mainan, memakai baju, dan lain sebagainya dapat menyebabkan seorang anak memiliki sifat ketergantungan yang berlebihan sehingga anak akan menjadi cengeng agar segala kebutuhannya dilayani.
Fenomena seperti ini apabila dibiarkan begitu saja akan membuat anak menjadi manja dan memiliki sifat ketergantungan ketika menginjak dewasa bahkan sampai dewasa sekalipun. Untuk itu maka orang tua harus membiasakan anak untuk bediwa mandiri sejak dini mulai dari hal yang terkecil seperti inemakai sandal. Dengan menanamkan sifat kemandirian sejak dini akan sangat bermanfaat bagi kehidupan anak kelak ketika dewasa.
Dalam konteks pendidikan agama Islam maka kemandirian pada anak usia dini, lebih ditekankan pada berbagai kegiatan keagamaan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa akan tetapi dapat dilakukannya tanpa ketergantungan kepada orang lain, misalnya: wudhu, salat, puasa dan lain sebagainya. Untuk itu maka taman kanak - kanak sebagai lembaga pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun perlu membina kemandirian keagamaan anak sejak dini.
Untuk itu seharusnya dalam pendidikan agama Islam mempraktekkan kegiatan wudhu, salat dan kegiatan ibadah yang lain media sangat, mutlak diperlukan. Selain hal tersebut dalam pelaksanaan kegiatan seperti salat, masih banyak siswa yang dalam prakteknya bergantung kepada guru, dan teman. Anak - anak banyak yang masih malu untuk melaksanakan kegiatan tersebut, dan bila ada sesuatu yang salah banyak yang putus asa. Hal tersebut dimungkinkan karena siswa kurang memiliki inisiatif sendiri untuk mencoba.
Dalam rangka pemberian bekal pada anak dalam menjalani hidup dalam masyarakat maka perlu adanya penanaman kemandirian sejak dini khususnya tentang pengamalan ajaran. agama Islam ketika masih duduk di Taman Kanak-Kanak, karena pada usia ini sangat menentukan pada proses perkembangan selanjutnya. Untuk itu akan diadakan penelitian tentang kemandirian anak di TK ABA Ngemplak, Kali Kotes, Klaten dengan judul “Pembentukan kemandirian Anak dalam Pendidikan Agama Islam di TK ABA Ngemplak, Kali Kotes, Klaten”.

B.      Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
1.       Kurangnya peningkatan kualitas guru dalam, mengembangkan karakter pada anak.
2.       Kurangnya penanaman kemandirian pada anak.
3.       Sifat manja yang diberikan orang tua membuat anak menjadi tidak  bersifat mandiri.

C.      Batasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah tersebut peneliti membatasi masalah pada pembentukan kemandirian anak dalam Pendidikan Agama Islam.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, Dian Andayani (2004) pendidikan agama islam berbasis kompetensi Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Ahmad D. Marimba, ( 1989) Pengantar Filsafah Pendidikan, Bandung Al Ma’arif
Ahmad Tafsir, (1991), Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung PT. Remaja Rosydakarya.
Azhar Arsyad, (2003) Media Pembelajaran, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada
Armei Arief (2002), Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam Jakarta Ciputat Pers
Badudu Zain, (2001) Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta Pustaka Sinar Harapan
Depag RI (2006), Alquran dan terjemahannya, Bandung : CV Jumaanatul ali Art
Depag RI (2004), Kurikulum 2004 Pendidikan agama islam, Jakarta Direktorat Jenderal kelembangan agama islam
Depdiknas (2006), kurikulum 2004 standar kompetensi taman kanak – kanak dan raudlathul athfal, Jakarta director jenderal managemen pendidikan dasar dan menengah
Hadari Nawawi, (1996). Pendidikan Agama Islam Surabaya Al- ikhlas
HB. Sutopo (1996). Metode Penelitian Kualitatif , Surakarta. Universitas Sebelas Maret
Lexy J Moleong ( 2002), Metode Penelitian Kualitatif. Bandung Remaja Rosda Karya
Martini Jamaris ( 2006), Perkembangan Dan Pegembangan Anak, Jakarta. Grasindo
M.Basyirun Usman, ( 2004), Metode Pembelajaran Agama Islam. Yogyakarta. Ciputat Press.
Moh. Uzer Usman ( 2005), menjadi guru profesionak, Bandung PT> Remaja Rosda Karya
Muhaimin (2005), Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Madrasah & Perguruan Tinggi, Jakarta ; PT .  Raja Grifindo Persada.
Muhammad Ali ( 1993) Strategi Penelitian Pendidikan Bandung Angkasa
Nana Sudjana, (1989). Dasar – Dasar Proses Belajar Mengajar :Bandung. Sinar Baru Algensindo
Neong Mohadjir ( 1992), Suatu Pendekatan Kualitatif Bandung Rajawali Pers
Ramayulis  (2005). Metodedologi Pendidikan Agama Islam Jakarta Kalam Mulia                                               
S. Nasution  ( 1989), Kurikulum dan  Pengajaran Jakarta PT Bumi Aksara
Sordijarto, (1993), Memantapkan Sistem Pendidikan  Nasional Jakarta  Grasindo
Sudarwan Arikunto (1992) Menjadi Peneliti Kualitatif  Yogyakarta Rake  Sarasin

Suh arsini         

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700

0 komentar:

Poskan Komentar