Jumat, 13 Juli 2012

PTK SMP 04- PAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU FISIKA SISWA KELAS VII SMP

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU FISIKA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 5 WONOGIRI
DENGAN PENDEKATAN KONSTEKTUAL

BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Ilmu pendidikan atau disebut sebagai pedagogic dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan merenungkan tentang konsep-konsep dalam mendidik. Istilah pedagigic berasal dari pedagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak (Purwanto, 1998).  Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa ilmu pendidikan selalu memerlukan inovasi-inovasi konsep yang mengarah pada peningkatan kualitas anak didik. Dalam hal ini, ilmu pendidikan mensyaratkan adanya pengkajian dan penemuan yang reliable atau handal untuk memaksimalkan hasil pendidikan.

1
Menurut Barnadib (1984) dalam ilmu pendidikan dibedakan menjadi empat, yaitu ilmu pendidikan teoretis, ilmu pendidikan praktis, ilmu pendidikan sistematis dan ilmu pendidikan histories. Ilmu pendidikan teoretis memberikan renungan teoretis yang tersusun, teratur, dan logis tentang masalah dan ketentuan pendidikan. Ilmu ini memiliki titik tolak pada praktek pendidikan menuju pemikiran sistematis dan mengenal juga persoalan-persoalan yang bersifat folosofis yang berhubungan dengan pendidikan. Ilmu pendidikan praktis memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan pendidikan yang langsung ditujuakan pada perbuatan mendidik. Ilmu ini menempatkan diri dalam situasi pendidikan dan mengarah pada perwujudan atau realisasi ide-ide pendidikan. Istilah lain adalah mengarah pada teknis pendidikan. Ilmu pendidikan sistematis memberikan pemikiran secara tersusun dan lengkap tentang masalah pendidikan. Ilmu ini lebih membahas secara umum, abstrak dan obyektif tentang masalah pendidikan. Ilmu pendidikan histories memberikan uraian teoretis tentang system-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan melihat latar belakang kebudayaan dan filosofi yang berpengaruh pada masa tertentu.  Ilmu pendidikan histories ini dianggap memiliki hubungan timbale-balik yang paling kuat dengan ilmu pendidikan sistematis.
Apabila dikaitakan dengan peningkatan kualitas dalam pendidikan, maka terdapat kaitan yang jelas anatara ilmu pendidikan teoretis, praktis, histories, dan sistematis. Untuk memaksimalkan kualitas anak didik diperlukan suatu teknik atau metode yang paling sesuai dengan kondisi siswa. Untuk menemukan metode ini, diperlukan suatu konsep sistematis yang dapat digali dari pengalaman atau histori pada masa lampau serta konsesp-konsep atau ide-ide sistematis yang mendukung. Ide-ide atau teori tidak akan dapat diaplikasikan secara maksimal tanpa metode pendidikan atau teknik yang tidak mendukung dalam proses belajar mengajar.
Dengan menyadari keterkaitan yang cukup kuat antara aspek teknis (praktis), teoretis, dan ilmu pendidikan sistematis ini, maka dapat dikatakan  bahwa metode atau cara dalam teknik pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan guna mendukung kualitas yang maksimal dan mendukung ilmu pendidikan sistematik secara umum. Baik ilmu pendidikan teoritis, praktis, maupun historis kesemuanya bermanfaat dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan manusia Indonesia guna menunjang pembangunan sumberdaya manusia seutuhnya.
Dalam kaitannya dengan ilmu pendidikan praktis, salah satunya adalah menekankan pada penguatan keterampilan  praktek mengajar. Ketrampilan mengajar merupakan suatu kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagao integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. Turney (1973 dalam Mulyasa, 2007: 69) mengungkapkan “…Delapan ketrampilan mengajar yang sangat berperan dalam menentukan kualitas pembelajaran, yaitu ketrampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan memnutup pelajaran, membimbing metode - Konstektual kelompok kecil dan perorangan”. Penguasaan terhadap ketrampilan tersebut harus utuh dan terintegrasi, sehingga diperlukan latihan sistematis, misalnya melalui pembelajaran mikro. Adapun uraian mengenai delapan ketrampilan dalam menentukan kualitas pembelajaran menurut Turney tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Menggunakan ketrampilan bertanya
Ketrampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang duberikan guru akan menentukan kualitas menjawab anak didik.
2.       Memberi penguatan
Penguatan (reinforcement) merupakan respon terhadap perilaku yang dapat memungkinkan terulangnya kembali perilaku tersebut.  Penguatan dapat dilakukan secara verbal dan non verbal dengan prinsip kehangatan , keantusiasan, kebermaknaan, dan menghindari penguatan respon yang negatif. Penguatan secara verbal merupakan kata-kata dan kalimat pujian seperti “bagus, tepat, bapak puas dengan hasil kerja kalian.” Sedangkan secara non verbal, dapat dilakukan dengan gerakan mendekati peserta didik, sentuhan, acungan jempol, dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar, meningkatkan kegiatan belajar, dan membina perilaku yang produktif.
3.       Mengadakan Variasi
Variasi dimaksudkan untuk mengurangi kebosanan peserta didik, agar selalu tekun, antusias, dan partisipatif. Variasi ini ada empat jenis, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar, variasi dalam pola interaksi, dan variasi dalam kegiatan mengajar.

4.       Menjelaskan
Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang suatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan konsep-konsep yang berlaku. Menjelaskan merupakan ketrampilan yang sangat penting mengingat sebagian besar dari peran guru adalah menjelaskan.
5.       Membuka dan menutup pelajaran
Membuka dan mentup pelajaran merupakan dua kegiatan rutin guru dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran. Agar dua kegiatan tersebut memiliki arti yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran, maka perlu dilakukan secara profesional. Membuka pelajaran merupakan kegiatan guru untuk menciptakan kesiapan mental dan menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka memusatkan diri sepenuhnya pada materi yang disajikan. Upaya tersebut meliputi menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan yang akan dipelajari, menyampaikan tujuan yang akan dicapai dan garis besar yang akan dipelajari , mengajukan pertanyaan baik untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap pelajaran yang telah lalu maupun untuk menjajaki kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari. Sedangkan menutup pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk menegtahui pencapaian tujuan umumdan pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari, serta untuk mengakhiri pembelajaran. Kegiatan yang dapat dilakukan agar bermanfaat dalam menutup pembelajaran tersebut diantaranya adalah dengan menarik kesimpulan, mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan, manyampaiakan bahan-bahan pendalaman dan tugas-tugas yang harus dikerjakan, memberikan post test baik secara lesan maupun tulisan.
6.       Membimbingmetode-Konstektual kelompok kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dana memecahkan masalah. Hal-hal yang sangat penting untuk diperhatiakn dalam membimbingmetode-Konstektual kelompok kecil ini adalah memusatkan perhatian peserta didik pada topikmetode-Bakat Tihlang, memperluas masalah, memperhatikan dan menganalisis pandangan peserta didik, meningkatkan partisipasi peserta didik, menyebarkan kesempatan berpartisipasi, serta dengan menutupmetode-Konstektual yang baik.
7.       Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.
8.       Mengajar kelompok kecil dan perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu proses pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab dengan peserta didik atau memberi kesempatan pengakraban antar peserta didik. Ketrampilan Pembelajaran kelompok kecil dapat dilakukan dengan mengembangkan ketrampilan dalam pengorganisasian, dan memberikan variasi dalam pemberian tugas. Disamping itu juga dapat dilakukan dengan pemberian tugas yang menantang dan sekiranya menarik siswa. Khusus dalam pembelajaran perorangan, sangat penting untuk memperhatikan kemampuan berfikir siswa agar yang disampaikan dapat diserap dengan baik.
Konsep tersebut salah satunya menekankan bahwa sangat diperlukan variasi dalam mengajar guna mengurangi kejenuhan siswa terhadap materi-materi yang cukup padat di sekolah. Variasi, salah satunya dapat dilakukan dengan metode “membaca-menyingkat, dan latihan berulang” atau disebut sebagai metode “Bakat_Tihlang”. Dalam metode ini, siswa dilatih untuk mentingkat suatu poin hafalan, dan kemudian didukung dengan latihan-latihan berulang untuk menguatkan pemahaman siswa. Metode ini member penguatan dalam dua aspek utama, yaitu aspek mempermudah mengingat (memory reducemnet) dan aspek menguatkan logika pemhaman (logic enforcement).
Ilmu fisika merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (sains) yang memerlukan penggabungan unsur daya ingat dan logika sekaligus. Daya ingat digunakan untuk menghafal berbagai perilaku unsur-unsur fisika, sedangkan logika digunakan untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan perilaku unsur apabila direaksikan, berdasarkan hokum-hukum fisika yang telah dirumuskan para ahli. Dengan memahami kondisi ini, maka sangat penting dilakukan variasi dalam praktek mengajar yang mampu mengkondisikan siswa untuk mudah menghafal dan memperkuat daya logika pemahaman siswa, dan dilakukan secara bersama-sama. Atas dasar latar belakang ini, maka penulis yang bermaksud untuk turut menciptakan peningkatan kualiatas siswa guna mendukung pembangunan manusia Indonesia seutuhnya, tertarik untuk menyusun karya yang berjudul “UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU FISIKA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 5 WONOGIRI DENGAN PENDEKATAN KONSTEKTUAL”. Kondisi lain yang melatarbelakangi ketertarikan penulis dalam mengangkat tema ini adalah adanya realitas di SMP NEGERI 5 WONOGIRI, dimana hasil belajar Ilmu Fisika di SMP NEGERI 5 WONOGIRI masih kurang memuaskan, sementara para buru terlihat belum mengembangkan berbagai inovasi dalam praktek mengajar maupun belum mengembangkan konsep-konsep pendidikan praktis lainnya. Daya serap siswa terhadap materi dalam Ilmu Fisika masih cukup rendah, dan siswa tampak mudah bosan atau kurang memeiliki motivasi belajar yang kuat dalam Ilmu Fisika.
B.             Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, dirumuskan masalah pengkajian sebagai berikut:
1.       Bagaimana pelaksanaan metode Konstektual untuk mata pelajaran Ilmu Fisika pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Wonogiri?
2.       Bagaimana peranan metode Konstektual dalam meningkatkan prestasi siswa untuk matapelajaran Ilmu Fisika pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Wonogiri
C.             Tujuan
Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, tujuan dari penulisan karya ini adalah sebagai berikut:
1.         Bagaimana pelaksanaan metode Konstektual untuk mata pelajaran Ilmu Fisika pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Wonogiri ?
2.         Bagaimana peranan metode Konstektual dalam meningkatkan prestasi siswa untuk matapelajaran Ilmu Fisika pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Wonogiri
D.             Manfaat Pengkajian
Penulisan karya ini diharapkan akan memiliki manfaat dalam berbagai aspek, diantaranya adalah:
1.       Bagi guru
a.       Untuk meningkatkan wawasan keilmuan tentang efektifitas dan kendala-kendala yang muncul dalam implementasi metode Konstektual.
b.       Meningkatkan pemahaman tentang model-model pembelajaran diluar model instruksional, yang dilakukan dengan mengembangkan aspek ilmu pendidikan praktis dan teoritis
2.       Bagi siswa
a.       Mempermudah siswa dalam mengadsorbsi materi Ilmu Fisika di Sekolah
b.       Memberikan solusi dalam mengatasi kesulitan menghafal dan menemukan sisi logis dalam materi-materi Ilmu Fisika.
E.       Metode Pengkajian
1.          Pendekatan dan Jenis Pengkajian
Pengkajian ini dilakukan dengan membandingkan hasil prestasi belajar siswa sebelum dan sesuadah digunakan metode Konstektual dalam pembelajaran. Oleh karena prestasi siswa lebih mudah didekati dengan menggunkan angka matematis melalui nilai, maka dalam pengkajian inipun menggunakan metode kuantitatif yaitu dengan membandingkan nilai-nilai prestasi siswa. Teknik kuantitatif yang digunakan adalah tidak dengan menggunakan metode statistic, akan tetapi dengan membandingkan nilai ulangan pasca pelaksanaan proses pembelajaran dalam setiap siklusnya dengan nilai sebelum diberlakukannya kegiatan pembwlajaran dengan metode Konstektual.
Jenis pengkajian ini adalah pengkajian kelas, dimana sample data hanya diambil pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Wonogiri dengan alas an peneliti adalah pengajar kelas tersebut sehingga pengambilan data dan pengamatan kualitatif untuk bahan penjelas lebih mudah diambil peneliti. Dengan jenis pengkajian tindakan kelas, maka hasil yang diperoleh belum tentu dapat digunakan untuk menarik kesimpulan pada kelas-kelas lain atau kelas yang sama pada sekolah lain, sebelum dilakukan pengkajian lain yang lebih luas cakupannya. Dengan kata lain, hasil pengkajian ini belum dapat digunakan untuk generalisasi terhadap seluruh siswa.
2.          Tempat dan Waktu Pengkajian
Tempat atau lokasi pengkajian adalah di tempat dimana peneliti melaksanakan pengajaran yaitu di SMP Negeri 5 Wonogiri Kabupaten Wonogiri. Peneliti telah menerapkan metode Konstektual selama satu semester. Waktu pengkajian dilakukan pada semester I tahun pelajaran 2008/2009.
3.          Data dan Pengumpulan Data
Data dalam pengkajian ini adalah data primer, yaitu data yang diukur dan diambil secara langsung dari subyek pengkajian. Data primer yang utama adalah data kuantitatif yang berupa nilai-nilai siswa dalam ulangan harian. Data nilai siswa yang digunakan adalah nilai-nilai ulangan selama periode tidak diberikan metode Konstektual dan nilai-nilai setelah diberikan metode Konstektual. Data ini untuk mengetahui perubahan prestasi siswa jangka pendek (satu semester) akibat diterapkannya metode tersebut.  Data kuantitatif inilah yang akan diuji secara statistic untuk menggambarkan hasil pengkajian. Data primer pendukung yang digunakan adalah data kualitatif yaiti berupa informasi bagaimana perilaku siswa bagaimana respon siswa dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dengan diterapkannya metode Konstektual, bagaimana tipe permasalahan dan kecenderungan siswa dalam menanggapi permasalahan-permasalahan tersebut, serta bagaimana daya dukung lingkungan. Pengambilan data kualitatif juga dilakukan secara langsung setiap proses metode Konstektual. Data kualititif ini adalah berperan sebagai data primer pendukung.
4.          Subyek Pengkajian
Subyek pengkajian dalam pengkajian ini adalah siswa kelas VII – D. Adapun jumlah subyek yang diteliti adalah 25 orang.  Metode pengambilan sample adalah dengan populatif sampling, yaitu sample diambil dari seluruh populasi yang ada, yaitu seluruh siswa kelas VII – D sebanyak 25 orang. Sampel adalah subyek yang dipakai untuk pengambilan data, sedangkan populasi adalah seluruh subyek dalam pengkajian, yaitu siswa kelas VII. Dalam pengkajian non populatif sampling, umumnya sampel hanya diambil dari sebagian populasi yang ada, yang dianggap mampu mewakili seluruh populasi siswa yang ada.
5.          Variabel Pengkajian
John W.B (1977:89) mendevinisikan Variabel pengkajian secara umum yaitu merupakan indikator indikator yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur aspek-aspek yang diteliti, yang akan dimanipulasikan, diolah, dan dianalisa guna mengetahui hasil pengkajian secara garis besar, melalui metode-metode tertentu yang digunakan oleh peneliti.
Variabel pengkajian ada dua yaitu variable terikat dan bebas. Variabel terikat (dependent variable)  adalah aspek yang dipengaruhi oleh variable lain, terikat oleh variable lain. Sebagai variable terikat dalam pengkajian ini adalah prestasi siwa dalam mata pelajaran Ilmu Fisika, sebagai variable yang terpengaruh oleh proses pelaksanaan metode Konstektual. Variabel yang lain adalah variable bebas (independent variable) yaitu variable yang berdiri sendiri, tidak terikat oleh variable lain, bahkan justru mempengaruhi variable lain. Sebagai variable bebas dalam pengkajian ini adalah peses penyelenggaraan metode Konstektual.
6.          Prosedur Pengkajian
Prosdur yang dilakukan dalam pengkajian ini adalah dengan metode siklus yang dilakukan dengan beberapa tahapan atau siklus, yaitu:

a.           Rancangan siklus I
1)             Perencanaan tindakan (planning) Perencanaan tindakan merupakan kegiatan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penelitian, mulai dari perangkat pembelajaran sampai pada alat ukur untuk menegtahui atau mengevaluasi tindakan penelitian tanpa mengesampingkan kendala-kendala tindakan.
2)             Pelaksanaan tindakan (action) Merupakan implementasi dari rancangan penelitian yang telah ditetapkan.
3)             Pengamatan tindakan (observasi) Merupakan pengamatan-pengamatan selama tahap penelitian yang bertujuan untuk merekam (recording) kondisi-kondisi yang ada disaat penelitian serta hasil dari pelaksanaan tindakan penelitian.
4)             Refleksi tindakan Regleksi merupakan tindak lanjut dari perolehan informasi dari observasi. Dalam refleksi ini dilakukan pengkajian berdasarkan data observasi guna menghilangkan elemen yang tidak diperlukan atau merugikan penelitian, serta untuk mempertahankan sisi positif yang mempengaruhi hasil pengkajian

b.          Rancangan siklus II
Siklus II merupakan pengulangan pada siklus I yang dilakukan dengan berbagai revisi. Revisi dilakukan dengan mempertimbangkan refleksi dalam siklus I dan melakukan langkah-langkah perbaikan dengan mempertahankan aspek-aspek yang positif dan menghilangkan aspek yang negative atau bersifat menghambat keberhasilan pelaksanaan study group discussion.
c.           Rancangan Siklus III

Siklus III juga merupakan pengulangan pada siklus II yang dilakukan dengan pembenahan dalam berbagai aspek yang terdapat dalam siklus III.
DAFTAR PUSTAKA

Barnadib, Sutari Imam. 1984. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. Yogyakarta: IKIP
E. Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda
Maknum, H.A. Syamsudin. 2005. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mudhofir. 1987. Teknologi Instruksional. Bandung: Remadja Karya
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosda
Gerlach, R. 1988. Qualitative Method. An Introduction to Research. __________
Sa’ud, U. Syaefudin dan Maknum, H.A. Syamsudun. 2005. Perencanaan Pendidikan. Bandung: Remaja Risdakarya
Walpole E, Ronald. 1982. Introduction to Statistic. San Francisco: W.H. Freeman & Co.
W.B. John, 1977. Research in Education.  India: Prentice Hall.
Yoshida. 1991. Lesson Study in Japan. www.tc.edu (2007).

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word),
hubungi : 081 567 745 700





0 komentar:

Poskan Komentar